VIDEO

Visitor Counter

TRANSLATE LANGUAGE

SAENAH AQIQAH

SAENAH AQIQAH

   Raja Aqiqah JaDeTaBek 

         0822 5470 5912

Twiter
MEDIA KRIMINALITAS

PENGADUAN KORUPSI

KPK

FACEBOOK
KOLOM IKLAN

 

DEWAN PEMBINA PONDOK PESANTREN IBAD AR RAHMAN DIDUGA KUMPUL KEBO DENGAN ISTRI ORANG.

image

Pandeglang, Media Kriminalitas- Kehidupan Keluarga IRF (51 Tahun) dengan Istrinya ERN (42 Tahun) berlangsung harmonis dan bahagia dengan social ekonominya lebih dari cukup.

ERN (42 Tahun) menikah dengan IRF (51 Tahun) pada bulan Februari 1999 sebagaimana data kutipan akta nikah No : 034/23/II/1999, yang di keluarkan oleh (KUA) Kantor Urusan Agama Kecamatan Serang-Kota Serang, tanggal, 08 Februari 1999,  Pernikahan ERN (42 Tahun) dengan IRF (51 Tahun) di Karunia anak  2 (dua) Orang yang saat ini berada di Kota Serang dan tinggal bersama IRF (51 Tahun).

ERN (42 Tahun) meninggalkan suami dan 2 (dua) orang anaknya, karena lebih memilih hidup bersama dengan (HD 60 Tahun), sebagai Dewan Pembina Pondok Pesantren Ibad Ar Rahman Islamic Boarding School, yang berdomisili di Kp.Cimanuk Cikadu, RT.006/003, Desa/Kec. Cimanuk, Kabupaten Pandeglang-Banten.

Menurut sumber Informasi ERN (42 Tahun) pergi dari Kota Serang dengan membawa serta 7 (tujuh) dokumen surat-surat tanah /sertifikat rumah,buku tabungan dan ATM atas nama IRF (51 Tahun), serta 1 (satu) Unit Mobil AGYA,diperkirakan nilainya kurang lebih Rp. 2 Milyar.

Dalam pesannya 2 (dua) orang anaknya sudah di titipkan kepada Allah, SWT dan ERN (42 Tahun) merasa sudah nyaman hidup di Pondok Pesantren Ibad Ar Rahman Islamic Boarding School Cimanuk Pandeglang bersama HD (60 Tahun), yang di ketahui saat ini keluarga HD (60 Tahun),(Anak dan Istrinya) tidak lagi berada Pondok Pesantren Ibad Ar Rahman Islamic Boarding School, motifnya diduga karena kehadiran pihak ketiga yaitu ERN (42 Tahun) yang notabene nya masih berstatus istri sah dari IRF (51 Tahun).

Hasil cek and ricek tim media kriminalitas, mendapat keterangan bahwa sekitar 1(satu) tahun yang lalu IRF (51 Tahun) dan ERN (42 Tahun), mendaftarkan anak keduanya masuk untuk menimba ilmu/pendidikan keagamaan ke Pondok Pesantren Ibad Ar Rahman Islamic Boarding School.

Pertemuan antara IRF (51 Tahun) dan ERN (42 Tahun) dengan HD (60 Tahun), saat itu hal yang lumrah ketika orang tua murid menitipkan anaknya di pondok pesantren kepada Dewan Pembina.

Seiring berjalannya waktu dengan kesibukan IRF (51 Tahun),sebagai karyawan di perusahaan swasta, maka istrinya ERN (42 Tahun) yang sering menjenguk anaknya di pondok pesantren, rupanya dengan seringnya HD (60 Tahun) bertemu dengan ERN (42 Tahun), tanpa didampingi suaminya menjadi “prahara bagi ketentraman keluarga “karena diduga hubungan antara HD (60 Tahun) dengan istrinya ERN (42 Tahun), bukan hanya sekedar hubungan orangtua murid dengan pihak yayasan/Pondok pesantren, dan hal ini menjadi factor penyebab seringnya terjadi perselisihan IRF (51 Tahun), dengan istrinya ERN (42 Tahun).

Demi menjaga perkembangan fsikis dan fsikologi anaknya yang meminta keluar dari pondok pesantren,akhirnya dipenuhi oleh IRF, padahal baru berjalan sekitar 4 bulan anaknya berada di pondok pesantren Ibad Ar Rahman Islamic Boarding School.

Menurut keterangan narasumber yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya,serta berdasarkan dari bukti rekaman saat pertengkaran terjadi, bahwa pada saat hari raya Idul Fitri yang lalu, kedua anaknya IRF (51 Tahun) ingin menemui Ibunya, ke Pondok Pesantren Ibad Ar Rahman Islamic Boarding School, namun sesampainya di Pondok terjadi perselisihan, antara kedua anaknya dengan HD (60 Tahun), karena anaknya IRF (51 Tahun), bersikeras ingin mengajak ibunya untuk pulang ke rumahnya di kota Serang, namun HD (60 Tahun), membentak/mengusir kedua anaknya IRF (51 Tahun), Sehingga ERN (42 Tahun) jatuh pingsan.

Melihat pertengkaran yang terjadi antara HD (60 Tahun) dengan anaknya, akhirnya ERN (42 Tahun) jatuh pingsan,dan secara spontan HD (60 Tahun), ingin memeluk ERN, namun kedua anaknya IRF (51 Tahun), melarangnya dan mengatakan” kalau kamu Umat Islam jangan sentuh ibu saya, karena kamu bukan muhrimnya” akan tetapi dengan tegas HD (60 Tahun), mengakui dan mengatakan bahwa dirinya sudah menjadi Muhrim dari ERN dan saya lah yang telah mengurusinya ( Red ERN (42 Tahun) selama ini, sambil memerintahkan Security untuk mengusir kedua anaknya IRF (51 Tahun).

Penelusuran lebih lanjut tim media kriminalitas, menemukan data bahwa pada tanggal, 16 Nopember 2018, di ketahui ERN (42 Tahun) dengan Mahram HD (60 Tahun) berangkat Umrah Ke Tanah Suci Mekkah, melalui Goenawan Erawisata Travel, Nomor Pasport :851102142 dan Visa No : 5052901505, tentunya menjadi bahan pertanyaan bagi IRF (51 Tahun) sebagai suami sah dari ERN (42 Tahun), karena dirinya tidak pernah mengetahui kalau Istrinya berangkat/pergi Umroh bersama HD (60 Tahun).


Sampai saat ini di ketahui melalui kuasa Hukumnya ERN (42 Tahun) pada tanggal, 21-3-2019 menggugat cerai suaminya IRF (51 Tahun) ke Pengadilan Agama Kabupaten Pandeglang Nomor : 0325/pgc.c/2019/PA.Pdg. Menurut keterangan Rahmatullah Sekretaris Desa Cimanuk,bahwa surat keterangan domisili dari Kepala Desa Cimanuk dengan register Nomor : 474.34/II/SKD/Ds.2011/II/2019, tersebut sudah kadaluwarsa masa berlakunya, dan sampai saat ini belum di perpanjang.

Dijelaskan Rahmatullah Pemerintah Desa Cimanuk tidak mengetahui kalau surat domisili tersebut digunakan oleh ERN (42 Tahun) untuk menggugat cerai suaminya IRF (51 Tahun), dan sampai saat ini gugat cerai di pengadilan agama Kabupaten Pandeglang sedang berjalan.

Di tempat terpisah tim media kriminalitas mencoba konfirmasi kepada Kamsin selaku ketua RT.006/003, untuk mengetahui keberadaan Yayasan Pondok Pesantren Ibad Ar Rahman Islamic Boarding School. Dijelaskan Kamsin bahwa Pondok Pesantren Ibad Ar Rahman Islamic Boarding School pemiliknya adalah HD (60 Tahun), namun menurut Kamsin pihaknya mengaku tidak mengetahui apa saja kegiatan dan kehidupan serta keberadaan didalam Pondok Pesantren tersebut, karena memang warga setempat tidak bisa masuk sembarangan ke areal Pondok Pesantren yang terkesan tertutup.

Bahkan Kamsin sendiri mengaku selaku ketua RT, tidak di ijinkan masuk oleh Satpam ke Pondok Pesantren untuk menemui HD (60 Tahun), maksudnya untuk mengklarifikasi dan menyampaikan  adanya Issu serta dugaan bahwa HD (60 Tahun) hidup serumah bersama ERN (42 Tahun), yang di ketahui statusnya masih mempunyai suami, terangnya.

Guna mendapatkan penjelasan dan klarifikasinya secara langsung 3 (tiga) kali Tim Media kriminalitas coba mendatangi Yayasan Pondok Pesantren Ibad Ar Rahman Islamic Boarding School, bermaksud untuk mengkonfirmasi, dan mempertanyakan serta minta penjelasan dari ERN (42 Tahun) yang hidup bersama HD ( 60 tahun ), namun lagi-lagi” HD ( 60 tahun ) selaku Pembina/Pemilik Yayasan Pondok Pesantren Ibad Ar Rahman Islamic Boarding School Cimanuk Pandeglang Banten, memerintahkan kepada Securitynya, agar tim media kriminalitas tidak di ijinkan untuk bertemu dengan alasan dirinya sedang sibuk rapat/meeting.

Kemudian di konfirmasi lewat  SMS, HD ( 60 tahun ) dalam pesan singkatnya menjawab dan mempertanyakan informasi dari mana?,karena ini merupakan dugaan pencemaran nama baik saya, dan saya sangat serius menanggapi hal ini, dan dalam hal ini telah kami bicarakan dengan team pengacara kami, dan untuk hak jawab mohon maaf saya sedang meeting dan saya memilih menggunakan hak diam saya, karena saya tidak merasa melarikan istri orang, silahkan menghubungi pengacara kami, Bapak Hadian  HP : 08781307XXXX. Terima Kasih.

Terkait hal ini, Raden KH. M.Yusuf Prianadi Karta Koesoemah, Pimpinan Pondok Pesantren Salafiyah “ TQN AL-Mubarok” Cinangka Serang-Banten Angkat Bicara“ bahwa pihaknya sangat mengecam keras” jika benar ada pasangan yang hidup bersama tanpa adanya pernikahan, itu sama saja dengan “hidup kumpul kebo”, dan jika hal ini di biarkan, tentunya akan merusak mental dan moral bangsa, serta patut dipertanyakan keislamannya mengapa sampai terjadi “hidup kumpul kebo”, di lingkungan pondok pesantren Islamic Boarding School.

Untuk itu Ki Yusuf meminta kepada MUI Kabupaten Pandeglang dan MUI Provinsi Banten, serta Kementrian Agama Kabupaten Pandeglang dan Provinsi Banten, agar turun langsung untuk memantau dan mengawasi kegiatan-kegiatan yang di laksanakan di Pondok Pesantren Ibad Ar Rahman, karena hal ini sangat mencoreng dan mencederai nama baik lembaga pondok pesantren, dan khususnya pendidikan islam, tegas Raden KH. M. Yusuf Prianadi Karta koesoemah.   

Dijelaskan Raden KH. M. Yusuf Prianadi Karta koesoemah, yang akrab di panggil Ki Yusuf, bahwa kriteria delik zina atau kumpul kebo sangat dilarang oleh syara'. Apabila dari segi kriteria,unsur dan syarat-syarat lain ada pada pelaku delik zina akan dijatuhi hukuman had, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam al-Qur'an dan as-Sunnah. Bagi pezina muhsan akan dikenakan hukuman rajam sampai mati, hukuman ini diberikan karena pezina muhsan tidak bisa menjaga keihsanan pada dirinya. Sedang bagi kumpul kebo (ghairu muhsan) bentuk sanksinya adalah hukuman jilid seratus kali dan pengasingan (taghrib), ditetapkan hukuman jilid adalah untuk memerangi psikologis yang mendorong terjadinya jarimah kumpul kebo (ghairu muhsan).

Menyikapi persoalan ERN (42 Tahun) istri dari IRF (51 Tahun) yang berangkat/pergi Umroh bersama HD (60 Tahun),tanpa ada ijin, di tegaskan Ki Yusuf, bahwa hal itu hukumnya “Haram” dan Istri yang hidup kumpul kebo/Zina, bisa digolongkan kepada orang-orang Durhaka, munafiqun,dan bagi kedua pasangan “kumpul kebo”, di akhiratnya nanti akan menempati Neraka Jahanam, karena Allah,SWT tidak akan mengampuni kedua pasangan“kumpul kebo”,jika suaminya tidak mengampuni dan memaafkan istri yang berzina dengan pasangan“kumpul kebo”, tegasnya. ( Red/Tim)


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2019 mediakriminalitas · All Rights Reserved