DPP FPK

FPK

VIDEO

Visitor Counter

TRANSLATE LANGUAGE

SAENAH AQIQAH

SAENAH AQIQAH

   Raja Aqiqah JaDeTaBek 

         0822 5470 5912

RSS Feed

BENCANA TSUNAMI SELAT SUNDA "ANYER" JADI SASARAN TEMBAK PEMBERITAAN DIPERTANYAKAN GS ASHOK KUMAR

image

Serang, Mediakriminalitas-  Ketua Harian PHRI Provinsi Banten, GS Ashok Kumar, mempertanyakan mengapa selalu daerah Anyer yang selalu menjadi bahan pemberitaan bencana tsunami Selat Sunda, Sabtu, 22/12/2018.

Padahal menurutnya, kawasan berikut hotel-hotel di kawasan Anyer faktanya tidak terimbas tsunami, seharusnya media juga memberitakan Tsunami secara fair, objektif dan riil sesuai fakta yang sebenarnya.

karena kawasan Anyer tidak terimbas tsunami, bisa di katakan Zero Accident,” Ashok menilai, tidak aneh bila pemberitaan Anyer mendapat rating tinggi karena Anyer menjadi icon pemberitaan dari berbagai narasumber.

“Namun apakah pemahamannya yang masih jauh dari cerminan ke pariwisataan. Coba saja ditulis judulnya yang besar, bahwa Pantai Cinangka terkena Tsunami, pasti beritanya tidak naik rating alias rendah minat bacanya. Ini karena Anyer sudah popular dan menglobal namanya, Sampai-sampai ada lagunya antara Anyer dan Jakarta, tidak ada lagu antara Bali dan Jakarta,” paparnya.

Selanjutnya, Ashok menambahkan, terkait isu yang tengah viral bila pantai Anyer itu mahal dan banyak pungutan liar. “Isu viral lagi katanya masuk Pantai Anyer mahal dan banyak pemalak liar, peristiwa ini pun sebenarnya terjadi di Pantai Cinangka, tetapi Anyer dan lagi Anyer lagi yang kena imbasnya. Kemudian makanan dan minuman restoran di Anyer juga mahal, kembali Anyer yang disudutkan,” terangnya.

Branding dan advertising yang telah dibangun bukan dengan sedikit materi yang telah di spending selama ini untuk sponsorship dari segenap Anggota PHRI dari masing-masing Hotel.

“Ironisnya, ada narasumber mengutarakan di salah satu media, akan mengajak semua pihak lakukan boikot Anyer dan pindah ke Bali. Dari beberapa poin yang di jadikan sebagai landasan, ya kalau mau di komparasi, ya harus sebanding, apel dengan apel, bukan salak dengan apel. Bagaimana pun keadaannya, kita harus bangga sebagai warga Banten,” kata Ashok menganalogikan.

Para narasumber atau orang yang memberi statement di media, menurutnya, harus di edukasi terlebih dahulu. “Anyer itu hanya sebuah DTW kecamatan, Kalau Bali itu kan DTW Provinsi. Hebat berarti Anyer itu menaikan value added pemberitaan. Seyogianya, Pemprov melalui dinas-dinas terkait seperti Kominfo, Dispar, dan lainnya selalu peka dan update pemberitaan di media, dan harus gerak cepat selalu, roadshow juga harus yang tepat sasar,” pungkasnya.

GS.Ashok khumar juga menambahkan, festival-festival semestinya tidak hanya digelar dalam rangka hanya untuk menghabiskan APBD, hanya branding pada tataran seremonial saja, sementara segment market di abaikan, serta tidak ada impact yang signifikan kepada naiknya tingkat hunian dari penyelegaraan Festival maupun Expo.

“Follow up after salesnya yang harus diperkuat oleh Pemprov sesuai seremonial. Serta adanya transparansi. Sampai detik ini kita sudah masuk dipenghujung tahun 2018, juga belum ada RIPDA untuk Pariwisata Banten.

Padahal Provinsi Banten sudah berusia 18 tahun. Blue Print itu mutlak, baru tahu arahnya mau dibawa kemana pariwisata kita ini. 90 persen mengalirnya tingkat hunian hotel dari daya upaya Sales and Marketing anggota PHRI sendiri. Namun kami tidak mempermasalahkannya demi membangun kebersamaan agar dapat mempercepat RIPDA demi kejelasan arahnya kepariwisataan kita ini,” jelas Ashok.

Tim 9 yang diberangkatkan meraih dan memenangkan serta membawa tongkat PATA International Conference Eco Tourism 2001 dari Colombo Sri Langka. Tahun 2002, Banten menjadi Tuan Rumah PATA International Conference Eco Tourism dengan 26 negara di Hotel Sheraton Bandara.

“Di tengah persiapan detik pelaksanaan H-2, terguncang insiden di Soeta Airport gedung MCD, otomatis ke-23 negara membatalkan ke ikut sertaan dari adanya insiden di Soeta Airport tersebut. Kadispar Perdana Alm Sulaiman, saksi hidup yang ikut ke Colombo Srilangka Affandi, saksi hidup mantan Bupati Serang Achmad Taufik Nuriman, Kadispar Kabupaten Serang Alam Darussalam, serta kami sendiri juga sebagai peserta Conference di Colombo,” ujarnya.

Meski begitu Ashok, atas nama PHRI BPD dan BPC se-Provinsi Banten mengapresiasi yang setingginya kepada Gubernur Banten Wahidin Halim, atas memberanikan diri menyatu 2 CEO Bupati Kabupaten Serang dan Walikota Kota Serang, dalam upaya revitalisasi Kesultanan Banten Lama menjadikan Madinah Banten. “PHRI sepakat membuat singkatan sebagai wujud apresiasi kami untuk Gubernur yang kami banggakan dengan istilah Banten Lama menjadi KWH yaitu Kawasan Wisata Halal. Semoga dapat menjadi julukan KWH selamanya, dengan catatan administrasi dari Gubernur diistilahkan KWH untuk dapat dikenang selamanya,” paparnya.( Rezqi Hidayat,S.Pd)


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2019 mediakriminalitas · All Rights Reserved