DPP FPK

FPK

VIDEO

Visitor Counter

TRANSLATE LANGUAGE

SAENAH AQIQAH

SAENAH AQIQAH

   Raja Aqiqah JaDeTaBek 

         0822 5470 5912

RSS Feed

PROYEK JALAN MUNJUL - CIKEUSIK DIDUGA DIKERJAKAN TIDAK MEMENUHI STANDART SPESIFIKASI TEKNIS

image

Pandeglang Media Kriminalitas- Pembangunan jalan menggunakan beton telah menggeser popularitas dengan penggunan aspal dalam konstruksi pembangunan jalan saat ini. Sebelumnya penggunaan aspal dalam pengerjaan jalan memang sempat menjadi Primadona dan pilihan utama sebagai konstruksi yang di anggap jalan terbaik.

Adapun Pertimbangan dengan menggunakan konstruksi jalan beton menjadi pilihan karena di anggap dapat menahan kendaraan yang berat, bahkan tahan terhadap genangan air dan banjir,selain itu biaya perawatan yang lebih murah di bandingkan dengan jalan aspal,selain itu tidak perlu merubah struktur tanah pada permukaan yang lemah dan pengadaan material yang lebih mudah di dapat di bandingkan dengan penggunaan aspal.

Akan tetapi pada kenyataanya dalam pelaksanaan proyek pembangunan ruas jalan Munjul - Cikaludan - Cikeusik sayangnya diduga dikerjakan tidak memenuhi standart keteknisan maupun standart spesifikasi yang sudah di tentukan oleh Bina Marga bahkan terkesan asal jadi saja,

Hal tersebut terbukti dengan pelaksanaan pembangunan itu tidak menggunakan Vibrator Beton secara menyeluruh, dan hanya di beberapa titik kegiatan saja yang menggunakan Vibrator tersebut,sehingga sangat jelas di duga beton tidak di padatkan dengan mesin penggetar secara menyeluruh, maupun dilakukan pengujian–pengujian pengendalian lapangan untuk memenuhi persyaratan spesifikasi. Apalagi dilakukan Tes kekuatan tekan AASHTO T 22 maupun tes Kuat Tarik Beton. Dengan Kekuatan tarik percobaan pembebanan silinder (the split cylinder) menurut ASTM C496 [37],  sehingga dalam pelaksanaan proyek pembangunan ruas jalan Munjul - Cikaludan - Cikeusik di khawatirkan dapat mempengaruhi perambatan dan ukuran dari retak di dalam struktur jalan     
                                       
Sehingga sangat diragukan bahwa isian padat beton kurang maksimal, dan akan menimbulkan keretakan serta bolong kecil pada permukaan jalan ketika beberapa hari penyusutan seiring pengeringan berlangsung. Selain itu Curing compound juga terlihat tidak digunakan, padahal penyemprotan compound tersebut sangatlah dibutuhkan untuk menjaga kestabilan beton, apalagi untuk beton jalan yang produktip.

Jika dilihat proyek perbaikan jalan itu menelan anggaran yang bersumber dari APBD provinsi Banten mencapai hingga Rp. 21.594.127.000,00. Dengan nomor kontrak, 761/101.5/SPK/PJWS-MCC/BBM/DPUPR/V/2018.

Sedangkan Pekerjaan pembangunan jalan tersebut dilaksanakan oleh penyedia jasa kontruksi, yakni PT. Marabuntha Cipta Laksana, dan penyedia jasa konsultan PT. Data Engineering Konsultan.

Berdasarkan pantauan media kriminalitas di lokasi, dalam pelaksanaan pembangunan jalan Rigid Pavement para pekerja tidak diberi perlengkapan atau pengaman keselamatan dan kesehatan (safety and health equipment) atau K3 untuk para pekerja. bahkan pekerjaan normalisasi serta lantai dasar untuk mutu atau biasa disebut B,0 terpasang Asal jadi saja.

Selain itu, penggunaan Curing Beton Geotextile juga terlihat tidak rapih, sehingga terkesan Asal-asalan, seharusnya diketahui bahwa material yang satu ini berfungsi sebagai penutup beton yang baru selesai di cor, dan berbahan non woven geotextile yang difungsikan sebagai curing beton, guna memperlambat efek pengeringan pada beton yang baru selesai dicurah, sehingga biasanya akan cepat mengering akibat panas matahari, untuk itu pembasahanpun mesti dilakukan secara rutin agar menghasilkan pengeringan yang maksimal, Bilamana hasil dari beton yang penutupannya tidak merata bisa menyebabkan beton mengalami retak rambut (crocodile crack) pada area yang tidak dibasahi serta tidak tertutup itu.

Selanjutnya berdasarkan pantauan tim media kriminalitas terlihat kurangnya penggunaan material seperti pengecatan pada Dowel, serta tidak mengunakan pengaman dowel atau biasa disebut kondom dowel, dan anehnya tekhnik pemasangan besi Dowel yang terlihat tidak lajim digunakan pada umumnya, bahkan di Lokasi proyek tersebut tidak ditemukan adanya Direksi kit atau kantor sementara proyek itu, terlebih lagi ada titik Rigid Pavement yang tidak dipasang Tibar.

Seharusnya dalam pelaksanaan pembangunan jalan tetap harus mengacu kepada semua ketentuan Standart, baik mengenai persiapan maupun metode pemasangan dan juga pelaksanaan pekerjaan beton mengikuti semua ketentuan dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 ( P.B.I. 1971  –  N.I.8), terkecuali bila dinyatakan atau diinstruksikan lain oleh Pengawas.

Saat ditemui Amad Lesmana Kepala Desa Cikayas selaku kepala pekerja, dirinya mengatakan bahwa semua yang dilaksanakan atau yang dikerjakan itu atas permintaan saudara Ipay selaku pihak pelaksana.

"Semua yang kami kerjakan atas permintaan Ipay pihak pelaksana atau pihak kontraktor, dan dia pernah mengatakan bahwa semua yang dia intruksikan adalah tanggung jawabnya," ujar Amad.

Simpulnya semua itu terjadi akibat lemahnya pengawasan dari pihak konsultan begitu juga lemahnya pihak DPUPR yang bersangkutan. sampai berita ini diterbitkan, pihak konsultan dan yang bernama Ipay belum bisa dikonfirmasi……Bersambung ( REZQI HIDAYAT,S.Pd).


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2019 mediakriminalitas · All Rights Reserved